AYAH ZAMAN NOW?

img

Seorang ayah menjalankan amanah yang telah dititipkan kepadanya. Sebagai kepala keluarga, ia tidak melulu menjalankan peran dan menuntaskan amanahnya sebagai tulang punggung keluarga, melainkan ayah memiliki amanah yang tidak jauh berbeda dengan seorang ibu.

“Adakah kamu hadir ketika Ya`qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab  “kami akan menyembah Tuhan mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim,  Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya" (QS.Al-Baqarah:133).

Ayah dalam kehidupan memang memiliki tanggung jawab besar, terutama dalam menghidupi keluarga seperti mencari nafkah untuk anak-anaknya. Akan tetapi peran ayah tidak hanya mencakup pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan ayah berperan dalam proses perkembangan anak. 

Menjadi seorang ayah  bukanlah perkara mudah, melainkan  karena perannyalah seorang anak dapat mencapai kesuksesan. Anehnya, peran ayah kian teralihkan dengan banyaknya akivitas seperti sibuk dengan urusan kantor, meninggalkan rumah di pagi hari sebelum anaknya bangun dan pulang saat larut malam.

Kesibukan seperti ini dianggap sebagai bentuk kasih sayang terhadap anak dengan alasan untuk masa depan dan kebahagiaan anak-anaknya. Hal ini kemudian menjadi pertanyaan, apakah dengan materi anak akan memiliki masa depan yang baik ?

Perbandingan tingkat kesuksesan ayah dalam mendidik anak, justru lebih jelas pada sosok peran ayah sebelum hadirnya modernisasi zaman, yang dulunya berperan sebagai kepala keluarga sekaligus sahabat bagi anaknya. Namun seolah terenggut modernisasi zaman sekarang. Perubahan peran ayah maupun kebutuhan utama anak yang tidak seimbang, faktor lingkungan yang memaksa, mengharuskan ayah menjadi pekerja siang-malam hanya demi materi.

Alhasil, kontrol terhadap anak pun terabaikan. Anak cenderung bersikap instan, hedonis, dan berperilaku tidak sopan serta terjerumusnya anak ke dalam pergaulan bebas. Hasil survei yang dilakukan Komite Perlindungan Anak (KPA), dan Kementerian Kesehatan  menunjukkan, pada tahun 2013 terdapat 62,7% remaja di Indonesia  pernah melakukan hubungan seks pra nikah. Sebanyak 20% dari 94.270 perempuan yang mengalami hamil dan 21% di antaranya pernah melakukan aborsi.  

Kejadian seperti ini akibat dari hilangnya peran ayah sebagai ulama dalam keluarga, teladan, pendukung dan pemelihara keluarga sehingga berpengaruh terhadap psikologi anak.

Seorang psikolog dari Universitas Indonesia, Lifina mengatakan, anak yang dibesarkan tanpa adanya peran seorang ayah maka akan terjadi masalah pada psikologis anak. Masalah psikologis yang terjadi seperti gelisah, sedih, suasana hati yang mudah berubah, fobia dan depresi.

Sementara, dari sisi moral, figur ayah akan membentuk kepribadian anak yang sopan, tegas, dan disiplin. Sementara dari sisi psikologis, anak akan memiliki rasa percaya diri dan kompeten serta akan menjadikan ayahnya sebagai ulama didalam hidupnya.

Seperti halnya kisah Nabi Ya`qub alaihissalam dalam mendidik ke 10 anaknya. Ya`qub memberikan aturan, sikap dan kontrol sehingga anak-anaknya pun menjadikan Nabi Ya`qub sebagai teladan dalam kehidupannya. Didikan yang diberikan tidak semata dengan menawarkan materi dunia, namun dengan apa yang diyakini dan dibenarkan dalam ajaran agama yang dianut, sehingga anak-anaknya pun mengikuti apa yang diyakini Nabi Ya`qub Alaihissalam.

Dengan demikian, ketika ayah saat ini terus bersikap apatis dalam tumbuh kembang anak, maka apakah yang akan terjadi pada "kids zaman now?".

Wallahua`lam bissawwaf



SOCIAL SHARE :

watawa saubil haq, watawa saubil marhamah

img

Pondok Pesantren Putri - IGBS Darul Marhamah

watawa saubil haq, watawa saubil marhamah

img

Pondok Pesantren Putri - IGBS Darul Marhamah

watawa saubil haq, watawa saubil marhamah

img

Pondok Pesantren Putri - IGBS Darul Marhamah