SEMINAR PARENTING

img

VISI DAN MISI KELUARGA ABAD 21 enlightened

Oleh : Fahmi Irhamsyah

Saya kerap kali bertanya pada para peserta seminar parenting, saya bertanya tentang apa visi keluarga Ayah Bunda. Ternyata sebagian besar Ayah Bunda peserta seminar parenting belum memiliki visi yang jelas bagi keluarganya. Kalaupun ada maka visi-visi yang bermunculan adalah visi-visi dunia jangka pendek seperti : “visi keluarga saya adalah menjadikan anak-anak menjadi orang yang sukses, berhasil memiliki rumah, kendaraan”. “Visi keluarga saya adalah menjadikan anak kuliah hingga S3 dan berpenghidupan yang layak di masa depan”.

Tidak ada salahnya memiliki visi seperti di atas, namun sungguh naif. Mohon maaf, Itu merupakan visi yang sangat rendah! Mengapa kita begitu memperhatikan visi hidup dunia yang hanya 1,5 jam saja. Sudahkah kita memperhatikan visi kehidupan kekal abadi kita di akhirat? Dahulu guru saya menjelaskan satu kalimat sederhana yang begitu membekas dalam sanubari saya, beliau berkata bahwa jika Allah menjadi tujuan hidup maka dunia akan datang melayani kita. Proses menjadikan Allah sebagai tujuan hidup itu seperti seseorang menanam padi, saat padi (akhirat) ditanam maka rumput (dunia) akan muncul dengan sendirinya.

Fakta ini menjadi fenomena diseluruh dunia bahwa tatkala padi ditanam rumput akan tumbuh dan tidak pernah terjadi sebaliknya! Saat menanam rumput, namun padi ikut tumbuh. Maka mari Ayah Bunda kita menaikkan kelas kehidupan kita. Ubah navigasi kehidupan kita dari visi dunia menjadi visi akhirat, jadikan Allah tujuan hidup Insya Allah dunia yang akan melayani kita saat beribadah. Karenanya orang-orang saleh terdahulu sering kali berdoa “Ya Allah letakkan dunia di tanganku dan akhirat di hatiku

Makna meletakkan dunia di tangan adalah kita sangat mudah melepasnya dan kita meyakini bahwa dunia hanyalah titipan Allah semata. Allah pemilik dunia ini karenanya kita tidak perlu angkuh terhadap orang lain yang Allah berikan sedikit dunia kepadanya, karena bisa jadi ia lebih mulia di hadapan Allah. Pun juga tidak perlu kikir, karena dalam harta kita ada hak orang lain yang harus kita tunaikan. Lalu bagaimana cara memandang dunia?

Pandanglah dunia sebagaimana seorang juru parkir memandang. Pada pagi hari seorang juru parkir di dekat Stasiun Depok Allah berikan rezeki berlimpah. Datang kepadanya orang-orang dengan membawa motor-motor nan bagus dan banyak jumlahnya. Orang-orang itu datang dan menitipkan motornya sesaat sebelum menaiki kereta api. Berangkatlah mereka menuju Jakarta.

Pada sore harinya, sepulang dari aktifitas mereka di Jakarta satu persatu sang pemilik motor datang dan mengambil kembali titipannya. Pertanyaannya, adakah para juru parkir itu di pagi hari menyombongkan diri dengan motor-motor yang bagus dan banyak itu? Adakah mereka yang kemudian menangis sesungukan dan berguling-guling karena sedih saat sore hari motor-motor itu di ambil? Jawabannya tidak! Kenapa? Karena mereka memahami itu semua hanya TITIPAN.

Pandanglah harta dan anak-anak kita sebagai titipan Allah, Allah suatu saat bisa saja mengambil harta dan anak-anak kita. Namun kita juga perlu tahu bahwa itu semua harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Tentang usia kita untuk apa kita gunakan, tentang harta kita dari mana kita dapatkan dan untuk apa kita belanjakan. Tentang anak-anak kita, sudahkah kita didik mereka untuk mengenal Allah?.



SOCIAL SHARE :

watawa saubil haq, watawa saubil marhamah

img

Pondok Pesantren Putri - IGBS Darul Marhamah

watawa saubil haq, watawa saubil marhamah

img

Pondok Pesantren Putri - IGBS Darul Marhamah

watawa saubil haq, watawa saubil marhamah

img

Pondok Pesantren Putri - IGBS Darul Marhamah